Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Potret Kehidupan Sosial: Gelandangan dan Pengemis

Gambar
(Sumber :  m.infospesial.net) Pengemis adalah fenomena sosial yang mulai dipandang sebagai masalah serius, terutama dengan semakin banyaknya permasalahan sosial ekonomi dan politik yang ditimbulkannya. Modernisasi dan industrialisasi sering kali dituding sebagai pemicu, diantara beberapa pemicu yang lain, perkembangan daerah perkotaan secara pesat mengundang terjadinya urbanisasi dan kemudian komunitas-komunitas kumuh atau daerah kumuh yang identik dengan kemiskinan perkotaan. Apa Alasan Seseorang Menjadi Pengemis? Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Masalah pengemis adalah masalah yang pelik. Ia tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang. Masalah pengemis, pengamen, dll., merupakan masalah dari berbagai aspek, seperti politik, sosial, dan ekonomi. Tergantung dari kacamata mana kita memandangnya. Banyak alasan yang mendasari seseora

Masyarakat Ekonomi Asean

PELUANG, TANTANGAN, DAN RISIKO BAGI INDONESIA DENGAN ADANYA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Ditulis oleh: Arya Baskoro (Associate Researcher) Siapkah anda menghadapi persaingan di tahun 2015? Sudah seharusnya kita bersiap menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2015 mendatang. Indonesia dan negara-negara di wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi yang dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA  merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawas

Peran Pemuda di Era Kekinian

Gambar
Mendefinisikan  Kembali  Peran Pemuda (Sumber : twitter.com) Dalam rancangan Undang-undang tentang kepemudaan, definisi pemuda adalah orang yang berusia 18 s.d 35 tahun. Tentu penetapan margin usia ini telah melampaui kajian akademis untuk mendapatkan rumusan yang tepat bagi kondisi demografi kepemudaan di tanah air. Berdasarkan data Susenas 2006, jumlah pemuda Indonesia tahun 2006 mencapai 80,8 juta jiwa atau 36,4 persen dari total penduduk yang terdiri dari 40,1 juta pemuda laki-laki dan 40,7 juta pemuda perempuan. Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, tampak bahwa pemuda yang tinggal di pedesaan jumlahnya lebih banyak daripada pemuda yang tinggal di perkotaan (43, 4 juta berbanding 37, 4 juta). Dengan jumlah yang  sangat  besar tersebut, maka peran strategis pemuda dalam pembangunan nasional sangatlah penting spesifikasinya dalam pembangunan daerah. Hal ini telah dibuktikan di dalam berbagai kiprah pemuda seiring dengan perjalanan dan denyut jantung kehidupa

Sunda Wiwitan sebagai Agama Asli Masyarakat Sunda

Gambar
Memahami Fenomena Sunda Wiwitan Masa Kini Oleh : Ira Indrawardana Dosen Antropologi FISIP UNPAD, warga AKUR (Adat Karuhun Urang Sunda) Cigugur Kuningan – Jawa Barat. (Sumber : photo.liputan6.com) Secara antropologis, terdapat perspektif bahwa sistem kepercayaan atau religi mengalami perkembangan evolutif dari animisme, dinamisme, totemisme hingga monoteisme. Masyarakat awam cenderung memahami bahwa dimensi religius dalam konsep “agama” sebagai konsepsi puncak dan perkembangan sistem kepercayaan yang berkembang dalam kehidupan manusia. Benarkah demikian? Pertanyaannya kemudian di manakah atau bagaimanakah posisi “agama minoritas” atau “sistem kepercayaan” lain yang seolah belum terakomodasi dalam ruang publik secara setara bahkan diperlakukan diskriminatif, seperti halnya para kaum penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan kepercayaan atau “agama adat”. Sunda Wiwitan sebagai “Agama Adat” Sunda Wiwitan adalah penamaan bagi keyakinan atau sistem key

Makna Kejahatan Terorisme : Akar Masalah dan Implikasinya

Gambar
Telaah Antropologi Terorisme Oleh: Albert WS Kusen Tulisan ini bertujuan mengetahui isu dan makna terorisme, mengkaji akar permasalahannya serta menentukan implikasi kebijakannya. Diharapkan hasil kajiannya, ’bukan sekedar ’memukul udara dengan angin’ (nihil), tetapi secara konseptual dapat ditemukan solusinya sebagai acuan para pihak yang berwenang maupun yang peduli dengan permasalahan terorisme di tanah air. Pada bagian terakhir catatan ini dikemukakan pula apresiasi terhadap prestasi Densus 88 dan seputar isu hitam yang menerpanya. (Sumber : www.bnpt.go.id) Makna Terorisme dan Implikasi Kejahatan Kemanusiaan ( Crime Humanity ) Istilah teror berasal dari bahasa Latin, terrere yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi to fighters . Artinya adalah suatu situasi yang dikondisikan sedemikian rupa agar menimbulkan rasa takut (mengancam nyawa manusia), dengan harapan diperhatikan oleh publik pada umumnya, dan khususnya pihak yang dijadikan sasaran teroris.